Isra’ Mi’raj Momentum Perubahan

Pagi itu suasana kota Makkah ramai banyak orang yang berkumpul, satu sama lain sedang membicarakan sesuatu yang serius, setiap orang penasaran dengan apa yang dibicarakan, semakin siang semakin ramai orang membicarakannya.

Terlihat ada orang yang berlari cukup kencang kearah rumah Abu bakar Assidiq ra “Wahai Abu Bakar tidakkah kamu dengar orang–orang membicarakan sesuatu yang aneh menurut akal pikiran, bagaimana mungkin ada orang mengadakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik langit ketujuh dan ditempuh dengan tempo cuma semalam. Ini benar–benar gila!”

Abu Bakar Assiddiq ra dengan tenang penuh kewibawaan bertanya kepada orang tadi, “Hai Si Fulan siapa yang melakukan itu?” Si Fulan menjawab, “Itu temanmu Muhammad sudah gila!” Sahabat Nabi,, ,,Abu Bakar Assiddiq ra tersenyum ringan dan dengan suara lantang berjalan menuju ke arah kerumunan orang-orang Quraisy, “Wahai saudara-saudara apa yang kalian bicarakan, tentang peristiwa tadi malam kalau yang menyampaikan Muhammad bin Abdullah, saya yakin dengan sepenuh hati itu adalah benar, saya sebagai saksi bahwa Muhammad bin Abdullah adalah orang yang dapat dipercaya perkataannya tidak pernah dusta, amanahnya tidak pernah dikhianati tidak sekali-kali pun menyakiti orang lain.”

Inilah peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa yang sangat luar biasa yang dialami oleh Nabi Shalallahu alaihi wassalam dalam waktu yang sangat cepat. Imam Dr. Raghib Al-Ishfani menjelaskan bahwa kata Isra’ menurut bahasa (lughat) adalah berasal dari kata Asra’ yang mempunyai makna memperjalankan. Ulama lain mengatakan, kata Isra’ diambil dari kata Assurah yang berarti Ardhun Waasi’un yang berarti alam yang luas.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna Isra’ secara terminologi adalah berjalan di waktu malam (travel by night, to depart by night).

Dan Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa diteruskan ke Sidratul Muntaha atau langit ketujuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
(QS. Al-Isra’: 1)

Boleh dikatakan setiap tahun kita ikut memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam—termasuk tahun ini. Setiap Bulan Rajab kita sering diajak orang tua ke Masjid untuk mendengarkan ceramah yang disampaikan Muballigh. Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Takkan pernah habis diceritakan. Walaupun peristiwa itu terjadi ribuan tahun yang lalu. Namun, tetap relevan sampai sekarang. Lalu, apa kira-kira yang dapat kita ambil hikmahnya, diantara hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu:

Pertama, Akal manusia tunduk kepada Wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala Perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, sulit diterima oleh akal dan logika manusia. Itulah sebabnya ketika Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, mengabarkan peristiwa yang dialaminya kepada Kaum Quraisy, mereka bukan hanya menertawakan beliau, tetapi juga mencemooh, bahkan menganggapnya gila. Coba bayangkan. Waktu itu perjalanan dari Mekkah ke Palestina ditempuh selama 2 bulan perjalanan dengan Unta. Belum lagi perjalanan ke Sidratul Muntaha, di atas langit ketujuh. Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lainnya tidak akan bisa dihitung dengan menggunakan kalkulator buatan manusia.

Kedua, Mengambil I’tibar / pelajaran dari para Nabi. Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Allah mempertemukan Nabi Muhammad, dengan sejumlah para Nabi, diantaranya Nabi Adam AS.

Disini kita mengambil pelajaran kepada Nabi Adam AS agar kita menjadi Bapak yang adil kepada anak-anaknya, tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain. Dalam dimensi luas, Bapak itu bisa berarti pimpinan.

Ketiga, Hakikat Shalat. Shalat adalah perjalanan rohani manusia “menuju” Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Itu tergambar dalam bacaan-bacaan shalat tersebut. Badan manusia ketika shalat berada di bumi tetapi rohaninya “berjalan” ke hadirat Allah. Saat terdekat makhluk dengan khaliknya adalah saat sujud. Saat shalat itulah Mukmin Mi’raj “menuju” Rabb-nya.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita sebagai umat Islam, setelah peristiwa inilah kemudian umat Islam memulai melaksanakan shalat 5 waktu yang merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi siapa saja yang mengaku beriman dan berislam.

Dengan shalat lima waktu ini kita diarahkan oleh Allah menjadi insan yang mulia, insan yang bertaqwa, semakin khusyu shalat kita semakin dekat kita dengan Allah, sehingga masalah apapun yang kita hadapi Allah akan memberi jalan keluarnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah yang artinya, “Wahai orang–orang yang beriman mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang–orang yang shalat.”

Ayat ini mengarahkan kepada kita bahwa salah satu senjata kita orang-orang muslim adalah dengan melakukan shalat, ketika kita ada masalah segeralah kita melaksanakan shalat, segeralah kita perbaiki mutu atau kualitas shalat kita.

Bagi seorang pelajar mungkin kesusahan dalam menerima pelajaran, susah memahami pelajaran segeralah perbaiki shalat agar lebih khusyu, bagi orang tua mungkin ada masalah-masalah di pekerjaannya segeralah perbaiki shalat. Bersandarlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan shalat lebih khusyu lagi.[]

Ditulis oleh: Ustadz Nurcholis, S.Pd.I. (Kepala SMP IT Usamah)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?