Membangun Karakter Anak

Beberapa pekan lalu,saya mendapati tiga anak laki-laki dan perempuan berusia belasan tahun sedang tidur-tiduran di sebuah gubuk di pinggir jalan wilayah Mejasem saat saya sedang jalan pagi.

Pemandangan anak-anak usia belasan tahun di pinggir jalan juga saya dapati ketika hendak bersilaturahmi ke rumah orang tua. Saat melintasi kawasan pertigaan Pemalang, saya melihat beberapa anak usia sekitar 11 tahun dengan pakaian kumal serta sebatang rokok ada di jemari mereka. Sesekali mereka pun menghisap rokok tersebut.

Pemandangan semacam ini membuat saya tertegun. Dua hal muncul di benak saya; dimana rasa kekhawatiran orang tua dan mungkin anak-anak itu sudah tidak nyaman berada di rumah karena nihil kehangatan dan keharmonisan di rumah mereka.

Membangun bangsa tentu dimulai dari individu. Anak-anak masa kini adalah penentu masa depan di hari-hari mendatang. Jika potret anak-anak tersebut seperti di atas, akankah mereka dapat menjadi generasi yang diharapkan di masa yang akan datang? Padahal kita tahu, bangsa ini sudah sedemikian tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dalam menelusuri serta meneruskan jejak risalah kenabian – terbangunnya masyarakat bermoral dan bemartabat sekaligus rahmatan lil alamin,

praktis tidak bisa dipisahkan dengan pembinaan. Pembinaan yang paling efektif adalah melalui pembinaan keluarga. Keluarga adalah miniatur masyarakat terkecil dalam persekutuan sosial.
Keluarga merupakan benteng pertahanan dalam menghadapi gempuran budaya yang dahsyat. Kehangatan serta harmonisasi keluarga menjadi sangat penting.

Allah SWT memperingatkan kita semua untuk memelihara diri dan keluarga dari siksa api neraka, bahkan Allah menciptakan kita untuk memimpin dunia.

Kita mesti menyadari bahwa sebagai mukmin memiliki tanggung jawab terhadap generasi kita di masa depan.

Luqman Al-Hakim seperti yang telah dikisahkan dalam Al-Qur’an dapat dijadikan panutan dalam mendidik anak. Pendidikan tersebut dimulai dengan mengajarkan tauhid, larangan mempersekutukan Allah SWT karena merupakan kedzaliman, berbuat baik kepada orang tua, mendirikan sholat, beramar ma’ruf nahi munkar, bersabar dan larangan bersikap sombong.

Pendidikan tersebut diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi seluruh orang tua sebelum menjadikan referensi lain sebagai rujukan dalam pendidikan anak. Pola pendidikan yang dilakukan Luqman tersebut akan sangat bermanfaat dalam membangun kepribadian anak dan karakter bangsa di masa yang akan datang. []

Oleh: Ustadz Drs. H. Ahmadun
(Dewan Pengawas Yayasan Ribathul Ukhuwwah)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?