MERAIH RAMADHAN TERBAIK DI 10 HARI TERAKHIRNYA bersama UGD ( Ust. Ghusni Darodjatun, M.Pd.)

“…Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya” (HR Al Bukhari)

Ketika judul tulisan ini sampai pada pembaca, sangat mungkin muncul beragam komentar. Ada yang bergumam, “Ya Allah cepat sekali waktu ini berlalu…!”. Komentar lain boleh jadi muncul, “Tak terasa ya…tiba-tiba Ramadhan hampir berakhir. Astaghfirullaah…!”

Beginilah kondisi manusia, ia akan tersadar ketika masa itu berlalu. Tentu penyesalan seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebagai seorang muslim yang yakin akan Maha Rahman dan Rahim-Nya Allah, seharusnya kita segera bangkit dengan mensyukuri nikmatNya yang saat ini dapat kita rasakan, kemudian melakukan yang terbaik di sisa waktu yang Allah berikan.

Katakan pada diri dengan kesungguhan, “AlhamduliLlah, terima kasih ya Allah … kami bersiap memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, dengan segenap keistimewaannya. Dan akan kami tunjukkan kesungguhan kami meraih Ramadhan terbaik atas izinMu, ya Rabb….”

Di antara keistimewaan sepuluh hari terakhir Ramadhan antara lain :
1. Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam lebih bersemangat dalam ibadah dibandingkan hari-hari selainnya (HR. Muslim).
2. Menjadi indikator ketangguhan keimanan dan diterimanya ibadah Ramadhan insyaa’ Allah, karena keimanan akan meningkat dengan ketaatan (HR. Ibnu Majah).
3. Terdapat Laylatul Qadr yang nilainya lebih mulia dibandingkan dengan ibadah seribu bulan (QS. Al Qadr) dan hanya terjadi di satu malam pada bulan Ramadhan.

Memperhatikan keistimewaan yang tidak terkira itu, teladan kita Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam memberikan arahan bagaimana meraih Ramadhan terbaik di dalamnya, yaitu :
1. Memperbaiki kualitas ibadah. Semua ibadah yang dapat dilakukan sepanjang sepuluh hari terakhir itu, beliau melakukannya dengan penuh kesungguhan. Puasa dilakukan lebih baik, interaksi dengan Al Qur’an lebih berkualitas, infaq lebih dahsyat, dll.
2. Menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya untuk beribadah, dan mengencangkan kain sarungnya (menjauhi berkumpul suami – istri). Sebagaimana diriwayatkan Ibunda ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa, bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam melakukan tiga kebaikan itu selama sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau shallaLlaahu ‘alayhi wasallam wafat. Kemudian dilanjutkan isteri-isteri beliau sepeninggalnya.
3. I’tikaf. Secara bahasa bermakna berdiam dan fokus pada sesuatu (Syaikh Wahbah Zuhaili). Secara istilah bermakna menjernihkan hati dengan cara ber-muraqabah kepadaNya, konsentrasi pada ibadah secara fokus, melepaskan diri dari kesibukan duniawi, berserah diri dan menyerahkan urusan jiwanya ke tanganNya, hingga semakin dekat dengan rahmatNya. Sangat diutamakan dalam Ramadhan, khsususnya sepuluh hari terakhir agar bertepatan dengan Laylatul Qadr. Sebagaimana diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, “Nabi senantiasa beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau wafat”.

Agar i’tikaf tahun ini lebih berkualitas, hendaknya setiap mukmin mempersiapkan diri dengan hal-hal berikut :
1. Persiapan fisik dan mental. Secara fisik, diriwayatkan beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam mempersiapkan baju terbaik selama i’tikaf, tampilan terbaik dengan rambut disisir rapi oleh Ibunda ‘Aisyah dengan tetap berada di masjid, dll. Sedangkan secara mental beliau shallaLlaahu ‘alayhi wasallam dan para sahabat benar-benar menanti-nanti kehadiran Ramadhan –khususnya Laylatul Qadr– sejak enam bulan sebelumnya.
2. Persiapkan tempat terbaik, yaitu masjid. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dalam QS Al Baqarah : 125, “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman…”
4. Persiapkan agenda terbaik. Karena untuk meraih hasil terbaik diperlukan target terbaik yang jelas dan terukur, misalnya meraih ampunanNya, interaksi dengan Al Qur’an berupa khatam 2 kali selama I’tikaf, menghapal 3 juz Al Qur’an, memahami tafsir Ibnu Katsir juz 30, memperbanyak doa yang diriwayatkan Ibunda ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa saat menanti Laylatul Qadr dengan doa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii, dst.

Semoga Allah Subhaanahu wa ta’aalaa memberi kekuatan pada kita untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya yang mulia Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam, hingga Dia mencintai kita karena kita mencintaiNya.

“…tidaklah seorang hamba mendekati-Ku dengan amalan yang lebih Aku cintai daripada yang Aku wajibkan. Dan tidaklah seorang hamba terus-menerus mendekati-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…” (HR Muslim)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?