Orangtua Hebat, Sahabat Anak

Orang tua merupakan figur bagi anak-anaknya. Dikatakan figur karena orang tua merupakan sosok utama dalam kehidupan anak. Orang tua sebagai pendidik, pembentuk karakter dan model utama bagi anak-anaknya. Anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Maka dari itu, orang tua wajib memberikan contoh terbaik bagi anak-anaknya.

Dalam memberikan contoh kepada anak, orang tua perlu memperhatikan tahapan perkembangan anak. Orang tua yang hebat adalah orang tua yang mampu menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Menjadi teman di setiap tahapan perkembangannya. Selalu membersamai setiap tumbuh kembang anak. Memiliki quality time bersama anak, meskipun kedua orang tuanya bekerja agar anak tidak merasakan kehilangan atas figur orang tuanya.

Menjadi sahabat bagi anak bukan hal yang mudah, namun juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Banyak orang tua yang sukses menjadi sahabat bagi anaknya, bisa menjadi orang kepercayaan bagi anaknya dan menjadi teman curhat bagi anaknya. Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orang tua hebat, menjadi sahabat bagi anak-anak kita dan menjadi orang tua yang selalu dirindukan oleh anak kita?

1. Trust. Jika kita ingin dipercaya, maka berikan kepercayaan. Sekecil apapun kepercayaan yang kita berikan kepada anak kita, itu akan menjadi hal yang sangat berharga bagi mereka. Anak kita akan merasa dihargai, maka mereka akan menghargai. Anak merasa diberi tanggung jawab, maka mereka akan belajar bertanggung jawab. Percayakan, mulai dari hal yang terkecil terlebih dahulu. Jika salah perbaiki.

2. Arahkan, bukan salahkan! Jika sudah memiliki rasa saling percaya satu sama lain, ada kalanya

menyalahgunakan kepercayaan yang kita berikan. Wajar, setiap anak pasti akan ada masanya melakukan kesalahan. Entah dalam hal apapun itu. Jadikan momen kesalahan anak sebagai pembelajaran bagi dia.

Bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya, agar anak belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Jika anak diberikan arahan (bukan disalahkan) ketika berbuat kesalahan, maka anak akan lebih menghargai orang tuanya, bukan merasa takut karena disalahkan bahkan diberikan hukuman.

3. Posisikan diri. Coba deh kita sebagai orang tua ingat-ingat lagi, dulu ketika masih seusia anak kita, apakah kita melakukan hal yang sama dengan mereka? Jika iya, maka akan lebih mudah memahami perilaku anak. Jika tidak, coba posisikan diri kita seperti mereka. Jika kita bisa memposisikan diri kita seperti mereka, maka kita tidak akan otoriter dalam memberikan pendidikan terhadap anak. Misal, tidak dipungkiri dunia anak adalah dunia bermain, jadi tetap berikan hak anak untuk bermain setelah mereka menunaikan kewajiban mereka.

4. Bangun rasa percaya diri anak. Rasa percaya diri pada anak tidak serta merta bisa muncul begitu saja. Kita sebagai orang tua memiliki andil yang besar dalam membangun rasa percaya diri anak. Hargai sekecil apapun hal positif yang dilakukan oleh anak kita. Maka anak kita akan berusaha melakukan hal positif lainnya yang lebih besar.

5. Ruang aktualisasi diri. Kebutuhan tertinggi dalam hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Aktualisasi diri bisa dilakukan salah satu caranya dengan menunjukkan potensi yang dimiliki. Bagi anak yang rasa percaya dirinya sudah terbangun dan mendapatkan kepercayaan dari orang tua, akan lebih mudah dalam mengaktualisasikan diri.[]

Oleh: Atfiyanah, S.Psi.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?