Piala Penyemat Sebuah Makna

Dalam dunia pendidikan, sudah menjadi cerita umum ketika banyak guru dan orang tua membanggakan prestasi-prestasi anaknya. Prestasi dalam nilai akademik yang bagus, juara Olimpiade Sains dan Matematika, Juara Speeling atau Telling Story, Mendongeng, Turnamen Futsal atau Sepak bola, Karate, Taekwondo dan sejenisnya. Semua prestasi itu pasti membutuhkan perjuangan dan kerja keras baik dari ananda, pelatih, guru dan tentu saja orang tua dalam memfasilitasi putra-putrinya.

Namun ada hal-hal kecil yang sangat mungkin jarang kita apresiasi. Keberhasilan-keberhasilan anak-anak didik baik di rumah dan di sekolah dalam melakukan pembiasan-pembiasaan pembentukan karakter (character building). Belum pernah ditemui perayaan atau penghargaan seperti yang terjadi pada saat anak-anak meraih prestasi akademik dan sejenisnya, ketika anak-anak menunjukkan perilaku atau akhlak yang baik, beribadah dengan tertib. Hampir jarang sekali kita temui dalam civitas akademik di mana pun.

Sebagai orang yang beriman, pendidikan keagamaan tentu sangatlah penting. Terutama ibadah maghdah (ibadah wajib) yang menjadi dasar utama penghambaan seseorang pada Tuhannya. Salah satu ibadah mendasar yang wajib dilaksanakan bagi orang Islam yaitu sholat. Untuk mampu shalat dengan khusyu’ tentunya bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika kita berbicara pendidikan shalat di sekolah dasar.

Dalam membentuk karakter anak agar sampai pada tataran bisa melaksanakan shalat khusyu’ ini membutuhkan proses panjang bagi para pendidiknya. Selain mengajarkan bacaan shalat, rukun shalat, syarat syah dan wajib shalat dan sunnnahnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah mengajarkan anak untuk bersikap tertib, tenang, tawadhu, khusyu’ dalam melaksanakan sholat sebagai wujud penghambaan pada Allah swt.

Salah satu upaya yang dilakukan team kesiswaan bagian peribadatan di lingkungan akademis SDIT Usamah adalah dengan memberikan piala bergilir bagi kelas-kelas yang mampu melakukan sholat berjama’ah di masjid dengan tertib baik untuk kelompok anak putra dan anak putri. Hal ini bukan berarti pendidik memotivasi anak-anak untuk tertib ibadah karena piala. Tetapi pada sisi lain para pendidik meluruskan sisi tauhid anak-anak, mengajarkan bahwa ibadah itu semata-mata karena Allah lillahita’ala, karena ingin mendapatkan ridho Allah dan sebagai wujud bakti seorang hamba pada Rabbnya.

Anak-anak di usia sekolah dasar (7-12 tahun) yang menurut tokoh psikologi kognitif Piaget termasuk dalam tahap operasional konkret. Anak-anak dalam kisaran umur tersebut masih membutuhkan hal-hal konkret untuk dijadikan alat ukur dalam melakukan sesuatu. Anak sudah dapat memahami dan menggunakan aturah-aturan secara jelas dan logis, mereka telah memiliki kecakapan logis akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Sungguh pun mereka telah mampu mengklasifikasi berbagai permasalahan dengan nalarnya. Namun untuk menghindari keterbatasan berpikir abstaknya, perlu diberi gambaran konkret, sehingga mampu menelaah peraturan atau persoalan yang dihadapi. Dalam pembahasan ini berkaitan dengan adanya kegiatan pemberian Piala Bergilir Tertib Shalat Putra dan Putri SDIT Usamah.

Semoga bentuk penghargaan tersebut dan upaya tak henti dari ustadz/ustadzah SDIT Usamah dalam mendidik anak-anak, mampu membentuk karakter anak untuk menyadari pentingnya melakukan sholat dengan tertib, menumbuhkan anak-anak menjadi insan beriman yang beradab dan berakhlak di hadapan penciptanya. Semangat Fastabiqul Khoirot. Semangat Mencetak Generasi Qur’ani Beriman dan Beradab. (Dien Diani)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?