Catatan Cinta Untuk Pahlawan Bangsa

hari-guru-1

Menjelang pukul 07.00 pagi 25 November yang lalu, hape saya berbunyi menandakan ada pesan singkat masuk. Ternyata dari Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal, yang berisi sebait syair ‘terpujilah wahai Engkau Ibu Bapak Guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku …Selamat Hari Guru’. Trenyuh, surprise, sambil membayangkan waktu SD saat upacara, kami (Paduan Suara) berbaris tegak dengan penuh percaya diri membawakan lagu Hymne Guru dengan penghormatan dan penghayatan sebagai bentuk rasa terima kasih kami pada guru zaman itu.

Ternyata hari ini, kami mendapat ucapan yang dulu belum pernah kami bayangkan. Karena hampir sama dengan teman-teman guru lainnya, profesi guru awalnya belum menjadi cita-cita kami. Masih teringat dalam benak kami, saat guru bertanya ‘apa cita-cita kalian?’ Serempak kami menjawab ‘dokter, insiyur, presiden’ dan profesi keren yang lainnya, tetapi belum terdengar ‘kami ingin menjadi guru seperti Ibu/Bapak’

Ketentuan Allah SWT-lah yang mengantarkan kami menjadi seperti ini. AstaghfiruLlaah al Azhiim. Sampai-sampai kami sering saling mengingatkan ‘okelah ini bukan cita-cita kita, tetapi sekarang hal itu sudah terjadi. Ibarat ungkapan, kita barangkali tersesat di jalan yang benar’ Saya katakan ini jalan yang benar (pakai garis bawah). Karena insya Allah, selain halal (ini yang paling utama), profesi kita adalah bukan profesi biasa-biasa saja, bahkan ini adalah profesi luar biasa.

Betapa tidak, jika Allah SWT pernah mengingatkan kita, “Dialah (Allah) yang telah membangkitkan bagi kaum yang ummi (buta huruf) seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, dia membacakan ayat-ayatNya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan As Sunnah” (QS Al Jumu’ah : 2).

Bahkan kemudian Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah haditsnya “Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, para penghuni langit dan bumi, hingga semut-semut di sarangnya dan ikan-ikan di lautan pasti mendoakan para pengajar kebaikan kepada manusia”, selain motivasi dari agama ini tentang kewajiban belajar, keutamaan mencari ilmu, atau ungkapan ulama tentang bagaimana seorang pencari ilmu wajib menghormati guru sebagai satu dari beberapa syarat bagi pelajar meraih kesuksesan.

Barangkali banyak di antara kita akan mengatakan ‘…klise, Mas. Guru tidak hanya butuh Hymne Guru, julukan pahlawan tanpa tanda jasa, dsb. Guru juga butuh kepastian kehidupan’. (Di tengah ngetik, hape saya bergetar lagi, masuk sebuah pesan singkat dari teman seprofesi ‘guru = buah simalakama, dipuji … dicaci, dicari … dikebiri, dipaido … diadili, guruku sayang guruku malang).

Memang ungkapan itu tepat dan tetap perlu diperhatikan oleh semua pihak yang memiliki kewenangan untuk itu. Tetapi saya ingin mengingatkan, ucapan yang sering kita sampaikan pada anak-anak didik kita.

Ungkapan optimisme, ungkapan keyakinan bahwa ketika kita melakukan kebaikan akan dibalasi kebaikan oleh Allah SWT, bahwa seseorang memanen apa yang ia tanam, dan ungkapan lainnya. Apa kita akan mengingkari ungkapan sendiri? (Jarkoni, bisa ngajar ora bisa nglakoni jare wong Tegal).

Inilah yang dimaknai sebagai integritas dan keteladanan, suatu nilai ideal yang semestinya melekat pada seorang guru. Ketika berpikir positif, ini adalah upaya yang sangat baik dari Pemerintah ‘menggiring’ guru sampai pada nilai ideal tersebut. Antara lain dengan sebutan pendidik untuk lebih memperkuat makna kata guru, bahkan untuk pegawai di lembaga pendidikan (dulu hanya disebut TU) dinamai tenaga kependidikan.

Apa jadinya pendidikan jika sang guru (pendidik) menyalahi identitas, keteladanan, dan integritasnya? Alih-alih menjadi transformer nilai-nilai, budaya, dan rekonstruksi masyarakat, sebagian guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik. Di antaranya membocorkan soal-soal ulangannya sendiri, mengatrol nilai karena ‘kepentingan’ sesaat, (maaf agak kasar) memfasilitasi kecurangan dalam ‘keberhasilan’ Ujian Nasional, ikut menjual buku-buku ajar hanya karena komisi (fee) yang dijanjikan penerbit buku tersebut lebih besar dari penerbit lainnya (dengan mengesampingkan kualitas bukunya), bahkan praktik manipulasi data porto folio dirinya dalam proses kenaikan pangkat guru.

Dari mana kita mulai? Anita Lie mengutip pernyataan Parker Palmer dalam bukunya The Courage to Teach (2003), menjadi guru bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual. Sehingga idealnya seorang guru harus selalu mengaitkan profesinya dalam tiga komponen, dirinya dengan anak didik, serta bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya.

Pertama, seorang guru harus bisa menemukan dan mengukuhkan identitas serta integritas dirinya. Dia harus terus menggali kemampuan dirinya, menemukan identitasnya, mengembangkan gaya, metode, dan teknik mendidik terbaiknya untuk menyinarkan aura yang bisa menerangi peserta didiknya.

Kedua, penyatuan diri dengan bidang yang diampunya. The messenger is the message. Salah satu indikatornya adalah kecintaan terhadap apa yang diajarkan kepada anak didiknya, termasuk kaidah-kaidah dalam disiplin ilmu. Juga keyakinan, bahwa apa yang diajarkan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi peserta didik sebagaimana pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang terkandung di dalamnya akan membawa kebaikan bagi sang guru.

Ketiga, guru tidak berhenti hanya pada peran the messenger who delivers the message, tetapi seorang guru memungkinkan untuk menyapa tiap pribadi peserta didik, menyentuh hati dan perasaan, serta membebaskannya untuk menemukan guru dari dalam diri mereka sendiri.

Parker menyebut, the teacher within. Implikasi pemahaman ini adalah, bukan hanya membebaskan mereka dari ketidaktahuan, tetapi juga membebaskan mereka dari ketergantungan pada guru di luar dirinya. Guru sejati berperan untuk menyadarkan peserta didik menemukan guru dalam diri mereka sendiri, yang akan membimbing, mengarahkan, dan memimpin menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Inilah kiranya apa yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru. Wajib bagi guru di hari ini melakukan perenungan betapa kedudukan dan peran seorang guru sangat diharapkan sebagai pahlawan bangsa bagi perbaikan negeri tercinta ini. Semoga …

(Terima kasih tak terkira untuk Ibu dan Bapak sebagai guruku pertama, guru di TK ABA V, SDN MKK VII, SMPN 2, SMAN 1, IKIP Jakarta, dan seluruh murabbiku…)

Oleh: Ustadz H. Ghusni Darodjatun, M.Pd.
(Dewan Pembina Yayasan Ribathul Ukhuwwah)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?