ISRO’ MI’ROJ DAN PENDIDIKAN BERBASIS MASJID

7Oleh Agung Al-Mumtazy
Pembaca yang dirahmati Allah,
Kisah Isro’ Mi’roj sudah tidak asing lagi di telinga kita, bahwa dengan keagungan dan kehendak Allah , Dia memperjalankan RosulNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, kemudian dari Masjidil Aqsho menuju Sidrotil Muntaha. Peristiwa ini terjadi begitu cepat hanya dalam 1 malam, sehingga mengundang kontroversi di antara para sahabat dan kaum Quraisy pada saat itu. Namun satu hal yang patut kita ambil teladan adalah sikap sahabat Abu Bakar Assidiq yang selalu membenarkan semua yang datang dari Rasulullah Muhammad . Pantaslah jika beliau dijuluki sebagai الصديق yang berarti orang yang selalu membenarkan. Begitulah iman jika sudah masuk dalam dada seseorang karena iman tak harus sesuai logika.
Mari kita perhatikan sisi lain dari perjalanan Isro’ Mi’roj ini. Rasulullah memulai perjalanan dari suatu masjid ke masjid yang lain di dunia ini lalu naik ke atas langit. Maka bagi kita yang masih di dunia ini penting sekali rasanya untuk memperhatikan suatu bangunan yang disebut masjid. Karena masjid lah pusatnya nilai-nilai tauhid. Masjid lah basis kekuatan kaum muslimin. Masjid lah pusat peradaban Islam. Masih ingatkah kita, bahwa yang pertama dibangun oleh Rasul ketika hijrah memasuki Madinah untuk menyatukan kaum muslimin adalah masjid, bukan pasar, bukan rumah, bukan pula tempat-tempat lainnya.
Indonesia terkenal dengan negara yang jumlah masjidnya terbanyak di dunia. Dalam suatu survey dinyatakan kurang lebih ada 850.000 masjid di negeri ini. Namun yang menjadi keprihatinan kita adalah bahwa masjid hanya berfungsi sebagai tempat sholat saja, ceremonial semata. Masjid dibuka hanya ketika waktu shalat tiba dan ditutup kembali setelah shalat jama’ah selesai ditunaikan dan tidak ada aktifitas lainnya. Maka telah menjadi tugas kita kaum muslimin hari ini yang sadar akan keimanannya untuk menjadikan masjid sebagai jawaban atas tantangan-tantangan zaman khususnya sebagai basis pendidikan Islam.
Alangkah indahnya jika masjid-masjid di negeri ini dan di seluruh dunia menjadi sentral peradaban Islam. Masjid sebagai tempat ibadah, di masjid sebagai pusat kajian-kajian dan ilmu-ilmu keislaman, di masjid umat ini menyelesaikan masalah dunia dan akhiratnya. Begitulah dahulu Rasulullah menjadikan masjid sebagai islamic center untuk membangun peradaban umat ini.
Pembaca yang berbahagia,
Marilah kita simak bersama firman Allah QS. At-Taubah 18 :
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ [٩:١٨]
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Lihatlah ayat di atas, bagaimana seharusnya masjid-masjid kita berfungsi sebagai tempat pembentukan karakter iman kepada Allah dan hari akhir. Mari perhatikan juga sabda Rasulullah yang diriwatkan oleh Imam Ahmad :
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ، فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ
“Jika kalian melihat seorang laki-laki yang senantiasa akrab dengan masjid maka bersaksilah bahwa ia seorang yang beriman (mukmin).” (HR. Ahmad)
Subhanallah, betapa agungnya masjid sebagai basis keimanan kaum muslimin. Jika iman kuat, maka ketaatan pada Allah pun kian menguat. Begitulah kader-kader masjid pada zaman Rasulullah , dari masjid muncul Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat nabi lainnya yang dikenal dengan ketinggian iman dan ketaatannya pada Allah dan RasulNya . Maka dalam waktu yang singkat, di tahun 2 hijriyah tepatnya Rasulullah dan para sahabatnya telah bisa menghantam kebatilan dengan memenangkan perang Badr melawan kafir Quraisy. Yang mana kaum muslimin berjumlah sekitar 313 orang dan kafir Quraisy mencapai 1000 orang. Allahu Akbar !!
Lihatlah episode lain pendidikan berbasis masjid yang dilakukan Rasul ketika seorang badui yang kurang beradab dan tidak mengetahui fungsi masjid bahkan hingga buang air kecil di dalam masjid, juga ketika ada kafilah dagang yang datang lalu para sahabat meninggalkan Nabi yang sedang berdiri berkhutbah, dengan kesabaran dan keteladannya beliau mampu mendidik seluruh sahabatnya pada waktu itu menjadi sosok-sosok unggulan dalam peradaban umat manusia. Hingga beliau sendiri yang menekankan pernyataan tersebut dalam sabdanya :
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, lalu orang-orang yang sesudahnya, lalu orang-orang yang sesudahnya.” (HR. Muslim 2533)
Pembaca yang budiman,
Maka dari itu hendaklah mulai saat ini juga masjid-masjid yang ada di sekitar kita difungsikan sebagai tempat pembinaan iman. Ingatlah bahwa posisi hamba paling dekat dengan Allah adalah ketika sujud, maka Nabi memerintahkan kita untuk banyak berdo’a pada waktu itu. Dan tempat sujud terbaik adalah masjid, sebagaimana penamaan masjid juga yang berarti tempat sujud. Saking banyaknya bersujud sahabat Umar bin Khottob berkata bahwa jika kalau bukan untuk banyak bersujud kepada Allah maka aku sudah tidak senang lagi hidup di dunia ini. Subhanallah… Sujud, sholat adalah kesenangan para sahabat generasi binaan Rasul . karena sujud adalah hubungan yang sangat intim kepada Allah .
Menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Islam memang sudah dijalankan oleh Rasul dan para sahabatnya. Dan sudah sepatutnyalah kita sebagai umat Nabi juga meniru dan mengikuti jejak langkah beliau yang mulia ini. Beliau telah bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud :
«مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca dan mempelajari kitab Allah (Al-Qur’an) kecuali turun pada mereka sakinah (ketenangan jiwa), mereka diliputi rohmah (kasih sayang), mereka dinaungi para malaikat dan Allah menyebut-nyebut mereka di sisiNya.” (HR. Abu Daud 1455)
Pendidikan Islam berbasis masjid bukan hanya diperuntukkan bagi para laki-laki. Bahkan para wanita pun diperboleh kan untuk mendatangi masjid-masjid asalkan tidak mengundang fitnah dan mudhorot lebih besar. Hendaknya pula para takmir masjid membangun masjid dan mendesignnya dengan sebaik mungkin sehingga nyaman dan aman bagi pria maupun wanita dalam beribadah dan bersatu padu membangun peradaban ummat lewat masjid.
Pembaca yang budiman,
Masjid juga berfungsi sebagai pemberdayaan sosial ummat. Dari masjid lah dana infak, sedekah dan zakat dihimpun dan didistribusikan kepada kaum muslimin yang berhak menerimanya. Dengan begitu akan terjalin hubungan yang akrab antara si miskin dan si kaya, antara yang kuat dan yang lemah. Tak ada kata saling menyakiti, tak ada kata saling menzhalimi karena semuany disatukan dalam bangunan masjid. Semua bersama-sama menyambut panggilan Allah yang sempurna, Hayya ‘ala sholaah – Hayya ‘alal falah…
Dalam QS. At Taubah ayat 18 di atas, kita ketahui bersama bahwa masjid juga berfungsi sebagai tempat pembentukan orang-orang yang merdeka. Mereka tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah . Di zaman modern sekarang ini banyak sekali manusia yang ketakutan sehingga bermunculan perusahaan-perusahaan asuransi untuk menutupi itu semua. Mereka takut sakit, takut hilang jabatan, takut terjadi kecelakaan, takut hilang harta sehingga mereka menjadi budak dunia. Hidupnya semakin sempit dan sibuk hanya mencari dunia semata tanpa memperhatikan syariat Allah . Dari sinilah awal keterpurukan kaum muslimin dimulai, ketika mereka telah jauh meninggalkan masjid-masjid Allah.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [٤٥:٢٣]
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah 23)

Di akhir tulisan ini, di momen Isro’ Mi’roj ini, mari kita semua senantiasa bermuhasabah diri dan lingkungan kita, khususnya masjid-masjid Allah.
Sudahkah kita benar-benar menjadi hamba Allah yang sepenuhnya taat, tunduk dan patuh hanya kepadaNya saja?
Sudahkah lingkungan kita, masjid kita menjadi sentral pembangunan akidah dan keimanan kaum muslimin?
Sudahkah metode pendidikan kita dibangun berlandaskan Islam berbasis masjid?
Sampai mana upaya kita untuk mewujudkan itu semua demi meninggikan kalimat Allah ?
Maka, mari kita semua memohon kepada Allah agar Dia senantiasa memberi kekuatan untuk memperbaiki diri sendiri, lingkungan masjid kaum muslimin sehingga bisa bermunculan kembali kader-kader masjid yang kelak membawa dan mengibarkan tinggi bendera kaum muslimin di kancah dunia internasional, aamiin. Wallahu a’lam.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?