Jadilah Manusia Merdeka

kepalan-tangan-1a450SERINGKALI kita merasa bahwa diri kita telah merdeka. Kita sudah bebas melakukan apapun. Ya, memang secara kasat mata kita telah merdeka. Kita tidak lagi berada dalam keadaan terjajah. Tetapi, apakah kita sudah menjadi manusia merdeka yang hakiki?

Rib’i bin Amir ketika diutus oleh panglima perang kaum Muslimin, Sa’ad bin Abi Waqqash RA, dalam perang Qadisiyah. Di hadapan Rustum, panglima perang bangsa Persia, Rib’i bin Amir menyampaikan misi luhurnya, “Kami datang untuk memerdekakan manusia dari penyembahan dari sesama manusia menuju penyembahan kepada Rabb manusia, Allah SWT. Untuk memerdekakan manusia dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan untuk memerdekakan manusia dari kezaliman beragam agama menuju keadilan Islam,” (Al Bidaayah wa’n Nihaayah, Ibnu Katsir IV/43).

Al-Qur’an mendokumentasikan bahwa dalam sejarah peradaban umat manusia telah terjadi penyembahan kepada selain Allah. Di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Fushshilat (41): 37. Atau yang menyembah malaikat seperti disinggung Allah dalam QS. Ali Imran (3): 80.

Ada pula yang menyembah para nabi, misalnya Nabi Isa as. Sebagaimana tercatat dalam QS. Al-Maaidah (5): 116. Pun mereka yang menyembah hawa nafsu (QS. Al-Furqaan [25]: 43, dan QS. Al-Jaatsiyah [45]: 23.

Dalam bahasa ayat di awal tadi, manusia yang terjajah dan belum merdeka adalah mereka yang berada dalam kesesatan. Sedangkan manusia merdeka adalah yang mendapat hidayah (petunjuk) Allah, yang menghamba hanya kepada Allah semata.

Begitulah, hidup adalah pilihan di antara dua hal, hidayah (petunjuk) atau dhalalah (kesesatan), Al-Khair (kebaikan) atau Asy Syarr (keburukan), iman atau kufur, Al-Haq (kebenaran) atau Al-Baathil (kebatilan), takwa atau fujur. Lalu, di akhirat nanti manusia dihadapkan pada dua pilihan tempat, surga atau neraka. Setiap pilihan memiliki konsekuensi dan balasan masing-masing.

Maka, penting merenungkan keberakhiran manusia dan kaum terjajah, yang durhaka kepada para rasul, mendustakan kebenaran dan menentangnya, seperti kaum ‘Ad dan Tsamud, yang telah dibinasakan Allah SWT disebabkan dosa-dosa mereka.

Akhirnya, mari kita bina dan kondisikan diri kita, keluarga dan masyarakat untuk menjadi manusia-manusia merdeka yang hakiki. Hal ini dilakukan agar bahagia di dunia dan akhirat dalam rengkuhan ridha Ilahi.

Sumber: www.ummi-online.com

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?