Memanjakan anak = Menghancurkan anak

anak-manja

Cara menghancurkan anak paling mudah adalah dengan memanjakannya, memudahkannya dalam semua hal, menyediakan baginya semuanya. Mungkin orang tua berpikir “dulu aku boleh susah, anakku jangan sampai sama”; jarang orang tua memahami, proses itu yang utama, bukan hasil.

Padahal susah itu yang membentuk seseorang, yang membuatnya bertahan; sementara kemudahan yang datang sebelum waktunya itu merusak. Apalagi kemudahan yang datang tanpa proses yang benar, akan jadi alasan untuk tidak berjuang, untuk tidak berpayah dalam sesuatu. Dan anak-anak kita berubah jadi manusia yang tak kenal nikmat sejati, yaitu bahagia yang didapat setelah bersusah payah melebihi batas. Dan orang tua sering lupa bahwa kesulitanlah yang membentuk mereka, bukan dimanja senantiasa, bukan dituruti segala maunya.

Ajarkan anak-anak kita untuk terbiasa dengan kehidupan, bimbing mereka menjalani prosesnya, bukan hasilnya. Bahwa tidak semua yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan. Bahwa tak semua kondisi ideal, mereka harus terbiasa dengan itu. Agar mereka mampu berkarya dalam keterbatasan, bersabar saat penantian dan bersyukur saat memiliki. Yang terpenting adalah agar mereka memahami dunia ini bukan tujuan, tapi merekalah yang harus kendalikan dunia agar jadi bekal akhirat.[]
Artikel By: Ustd. Felix Siaw

[Ulasan artikel]
Hadits shohih bukhari no. 1296
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”

Fitrah berarti keadaan suci, jika anak diibaratkan seperti kertas putih yang sejalan dengan teori tabula rasa, maka kita sebagai orang tua wajib menggambar, melukis dan memberikan warna yang indah agar menjadi figur yang bagus. Tugas orang tua adalah mendidik, merawat, membesarkan, memberikan contoh yang terbaik bagi anak-anak kita. Dengan cara bagaimana? Merujuk artikel tersebut bisa menjadi pembelajaran berharga bagi kita para orang tua. Memanjakan tidak sepenuhnya mengandung unsur kasih sayang, tapi justru bisa menjerumuskan. Sayyidina Ali Bin Abi Thalib R.a. mengajarkan kita bagaimana caranya mengajarkan anak sesuai dengan tahapan usianya:

1. Usia 0-7 tahun, perlakukan anak di usia ini seperti raja. Mereka belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk, sehingga tidak perlu memarahi/menghukumnya jika berbuat kesalahan, tapi berikan mereka pengertian tentang kesalahannya dengan ketulusan dan kelembutan.

2. Usia 8-14 tahun, Sahabat Ali r.a. mengajari kita untuk menjadikan anak sebagai seorang tawanan di usia ini. Dalam peperangan Islam, seorang tawanan memiliki kedudukan terhormat yang diberikan haknya secara proporsional namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban.

3. Usia 15-21 tahun, Di usia ini sahabat Ali r.a. mengajak orang tua untuk memperlakukan anak sebagai seorang sahabat karena ia akan mengalami perubahan fisik, mental, spiritual, sosial, budaya juga lingkungan. Orang tua hendaknya tidak terlalu mengekang namun juga tidak melepaskan secara menyeluruh tentang apa yang akan mereka lakukan. Kita memberikan mereka kebebasan namun juga pengawasan yang ketat agar mereka tidak jatuh pada hal yang salah dan tidak baik.

4. Usia 21 tahun ke atas, mereka ibarat anak panah yang melesat, biarkan mereka melesat sejauh mungkin, mengikuti arah angin yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Jangan paksa mereka untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan.

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Biarkan anak mengejar cita-citanya. Kita sebagai orang tua hanya perlu mengawasi, mengingatkan dan menasihati ketika mereka menyimpang. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Oleh: Atfiyanah, S.Psi.(Guru BK SMP IT Usamah)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?