SENI MENDIDIK ANAK: Mengajarkan Aqidah Sejak Dini

balita-sholat1-300x225Anak adalah miniatur orang tuanya. Banyak istilah untuk menggambarkan hal tersebut. “like father, like son”, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” dan lain sebagainya. Bukan tanpa alasan istilah-istilah tersebut muncul, tetapi karena seorang anak merupakan cerminan dari orang tuanya. Mulai dari bentuk wajah, bentuk tubuh, sifat dan kebiasaan-kebiasaannya pun seringkali mencerminkan bagaimana orang tuanya.

Hal tersebut terjadi karena seorang anak selalu membawa genetik dari orang tuanya. Selain itu, seorang anak merupakan peniru ulung dari orang-orang sekitarnya. John Lock dalam teori “Tabula Rasa” menyatakan bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini seperti kertas putih. Putih, bersih, polos, tanpa goresan. Hal ini bisa jadi sejalan dengan sebuah hadits shohih bukhari no. 1296 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”

Menurut hadits di atas, orang tualah yang bertanggung jawab memberikan warna pada anaknya. Seorang anak cenderung menirukan orang dewasa di sekitarnya. Senada dengan  Albert Bandura dalam teori pembelajaran sosial yang menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Oleh karena itu, cara mendidik yang terbaik adalah dengan memberikan keteladanan.

Jika ingin mengajarkan kepada anak tentang aqidah yang benar, maka sebagai orang tua harus memiliki aqidah yang benar dan terus memperbaiki aqidah kita. Jika ingin mengenalkan Allah SWT kepada anak, maka orang tua harus mengenal Allah SWT terlebih dahulu. Jangan sampai orang tua mengajarkan aqidah yang salah kepada anaknya. Proses belajar yang paling mudah adalah dilakukan sejak anak usia dini.

Karena mereka sangat cepat menyerap dan mengingat apa yang dilihat, didengar dan dialami. Pribahasa mengatakan, “Belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, sedangkan belajar di usia senja seperti menulis di atas pasir.” Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengajarkan aqidah dan mengenal Allah SWT dengan benar bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Memperdengarkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah” pada saat anak lahir. Rasullullah SAW pernah bersabda:”Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Laa Illaaha Illallah.”

2.  Mengajaknya untuk melakukan shalat sedari kecil.   “Mengajak” bukan sekedar “Menyuruh”. Jika mengajak, berarti bersama-sama melakukan suatu perbuatan. Jika menyuruh, anak akan cenderung menolak karena tidak ada contoh untuk melakukan suatu perbuatan. Begitu pula dengan shalat. Mengajak anak shalat sejak kecil, bisa menjadi pembiasaan yang baik bagi anak. Sehingga pada saat anak mulai wajib untuk mengerjakan shalat, sudah mulai terbiasa untuk melakukannya.

3. Memperkenalkan sifat-sifat Allah SWT kepada anak. Memperkenalkan sifat-sifat Allah SWT bisa menimbulkan kecintaan kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

4. Mengajak anak untuk mengenal diri dan lingkungannya serta mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan Allah SWT. Dengan mengenal diri dan lingkungan, anak akan belajar mengenal Allah SWT melalui ciptaan-Nya.

5.  Allah dulu,  Allah lagi,  Allah terus.
Meminjam istilah yang sering diucapkan oleh Ust. Yusuf Mansyur, bahwa kita harus selalu mendahulukan Allah SWT dalam segala hal. Sekecil apapun, ajak anak kita selalu melibatkan Allah SWTdalam segala aktivitasnya.

Wallalhu a’lam bishshowab. Semoga bermanfaat.[]

ditulis oleh: Ustadzah Atfiyanah, S.Psi.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?