Uncategorized

YRU Gelar Kajian Ba’da Tarawih Peran Muslim Menjaga Lingkungan bersama Budayawan Tegal

Suasana hangat dan penuh kekhusyukan menyertai kegiatan Kajian Ba’da Tarawih yang diselenggarakan oleh Yayasan Ribathul Ukhuwah di Masjid Ukhuwah Komplek SDIT Usamah Tegal, Kamis malam (12/3/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 50 jamaah setelah shalat tarawih ini menghadirkan dua narasumbe   r, yakni H. Drs. Atmo Tan Sidik Budayawan Tegal dan H. Ghusni Darodjatun,M.Pd. Pembina Yayasan Ribathul Ukhuwah, dengan tema “Kiprah Muslim dalam Menjaga Lingkungan dari Sudut Pandang Budaya dan Pendidikan.”

Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa seorang muslim seharusnya menjadi pribadi yang membawa keselamatan bagi lingkungan sekitarnya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa seorang muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan perbuatannya. Nilai ini juga memiliki implikasi luas terhadap lingkungan hidup. Kerusakan yang terjadi di bumi pada hakikatnya banyak disebabkan oleh ulah manusia. Oleh karena itu, kehadiran seorang muslim hendaknya justru menjadi sebab terjaganya alam dan kehidupan di sekitarnya. Bahkan dalam situasi peperangan sekalipun, Rasulullah SAW berpesan agar kaum muslim tidak merusak tanaman, tidak menghancurkan rumah ibadah, serta tidak menyakiti mereka yang tidak terlibat dalam peperangan.

Ghusni Darodjatun dalam pemaparannya menegaskan bahwa Islam, muslim, dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 164 yang menjelaskan bahwa diutusnya Rasulullah SAW merupakan karunia besar bagi orang-orang beriman. Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada hakikatnya merupakan proses pendidikan bagi umat manusia, termasuk dalam hal menjaga keseimbangan kehidupan dan lingkungan.

Sementara itu, Ustadz Atmo Tan Sidik yang juga dikenal sebagai budayawan dan Duta Baca Tegal menjelaskan bahwa nilai-nilai menjaga lingkungan sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi dan kearifan budaya lokal masyarakat Jawa.

Ia menyampaikan dalam Qur’an surat Ar-Rum ayat 41, “Kerusakan lingkungan hari ini sering terjadi karena manusia jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Banyak yang membaca, tetapi tidak memahami dan tidak mengamalkannya dalam kehidupan. Padahal Al-Qur’an sudah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia.”

Dengan gaya khas bahasa Tegalan, Atmo Tan Sidik mengajak jamaah merenung satu puisi Literasi Waskita, Yuh aja mung maca koran/imbang angger maca Qur’an/yuh bareng dzkikir karo mikir/ endah wong pesisir ora kesingkir/ nyambut gawe sat set endah mangane wareg/nyandange rapet turune anget pasedulurane kraket/ ibadahe ulet uripe tata n yanding literasi waskita. Mengingatkan untuk menyeimbangkan hidup, dan merealisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga lingkungan.

Beliau menambahkan bahwa budaya Jawa sesungguhnya sarat dengan pesan moral yang berkaitan dengan harmoni manusia dan alam. Dalam tradisi sarahan pengantin, misalnya, berbagai simbol yang disampaikan bukan sekadar seremoni, tetapi mengandung filosofi kehidupan.

“Dalam budaya Jawa, banyak simbol yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam. Pohon kelapa misalnya, hampir selalu hadir dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat Jawa. Pohon kelapa itu memberi manfaat dari akar hingga daunnya. Ini mengajarkan bahwa manusia pun harus menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tutur beliau.

Beliau juga mengisahkan tradisi pesan penuh makna dari ulama besar Nusantara, KH. Maimon Zubair, kepada seorang anak yang hendak menuntut ilmu di pesantren.

“Ada nasihat menarik dari Mbah Moen. Ketika ada seorang anak pamit mondok, beliau berkata: ‘Jangan pulang sebelum pohon itu berbuah.’ Artinya menuntut ilmu itu harus sabar, tidak boleh setengah-setengah. Bahkan beliau juga berpesan, carilah guru yang memiliki pohon sawo,” jelasnya.

Ia kemudian menerangkan makna dari filosofi tersebut.

“Buah sawo itu tidak bisa dimakan ketika masih mentah. Rasanya sepat dan tidak enak. Tetapi ketika sudah matang, rasanya sangat manis. Begitu pula dengan ilmu. Jika belajar belum sampai matang lalu berhenti, maka ilmu itu belum memberi manfaat. Karena itu, bergurulah sampai ilmunya benar-benar matang,” ungkapnya.

Menurutnya, kearifan budaya seperti ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan, menghargai alam, serta membangun karakter manusia sejatinya telah menjadi bagian dari warisan nilai yang diwariskan para ulama dan leluhur.

Kajian ini juga mengingatkan kembali teladan Rasulullah SAW dalam menjaga lingkungan. Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa menyingkirkan duri di jalan adalah sedekah, memberi minum hewan yang kehausan menjadi sebab ampunan Allah, dan menanam pohon yang kemudian dimanfaatkan manusia maupun hewan akan bernilai sedekah bagi penanamnya.

Melalui kajian ini diharapkan tumbuh kesadaran bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam sebagai amanah dari Allah SWT. Momentum Ramadan pun menjadi pengingat bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya sebatas tilawah, tetapi juga perlu diiringi dengan pemahaman serta pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kehadiran seorang muslim benar-benar menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Assalamu'alaikum. ada yang bisa kami bantu?